Reality Is Feeling What We Cannot Define

Exploring Consciousness

realitys

“The feeling that we stand face-to-face with the world, cut off and set apart, has the greatest influence on thought and action. Philosophers, for example, often fail to recognize that their remarks about the universe apply also to themselves and their remarks. If the universe is meaningless, so is the statement that it is so. If this world is a vicious trap, so is its accuser, and the pot is calling the kettle black.

In the strictest sense, we cannot actually think about life and reality at all, because this would have to include thinking about thinking, thinking about thinking about thinking, and so ad infinitum. One can only attempt a rational, descriptive philosophy of the universe on the assumption that one is totally separate from it. But if you and your thoughts are part of this universe, you cannot stand outside them to describe them. This is why all…

Lihat pos aslinya 44 kata lagi

Berawal Kata

Dalam kalimat rasa aku awali tuk kujejalkan satu per satu hingga semua keluhan pikiran dalam hati ini terlepaskan. Persinggahan hidup dalam fana ini harus ku-isi kembali setelah tertumpah ruah tak tercatat dalam penyesalan berkepanjangan. Tak ada baiknya pula hanya terus dirundung rasa itu, maka aku rasakan apa yang kupikir dan kupikirkan apa yang kurasa, kemudian bercerita dan aku bagikan sebagian, memungkinkan untuk mengurangi kesempitan ini.

Ya semua manusia memiliki masalah, begitupun diriku jika kau mulai menganggapku manusia.

Belum ada tempat untuk kusandarkan almanak-almanak merah yang senantiasa menarikku dalam perbicangan catatan, hanya dalam pikiran dan hati ini, berteman waktu, berlandaskan seribu tanya. Ku urai semua.

Dalam rasa tak berpintu ini aku awali.

Bekasi, 26 Juni 2012